Dalam satu tahun, seberapa sering Generasi Hijau berwisata? Mungkin satu, tiga, atau bahkan lebih dari lima kali. Berwisata menjadi salah satu cara untuk melepas penat dari rutinitas. Satu dekade bangkitnya media sosial telah mengubah dan mendorong pariwisata. Pada 2019, 10,4% Produk Domestik Bruto dunia berasal dari sektor industri pariwisata, sedangkan di Indonesia sendiri industri tersebut menyumbang 6,1% dari Produk Domestik Bruto. Begitu pentingnya pariwisata bagi pertumbuhan ekonomi dunia, sehingga terkadang kita melupakan dampak buruk pariwisata bagi lingkungan.
Sebagai salah satu sektor andalan, Industri pariwisata memiliki potensi besar meninggalkan jejak karbon. Industri pariwisata menyumbang sekitar 8% emisi karbon dunia. Berbagai faktor menyebabkan tingginya angka tersebut, mulai dari emisi kendaraan yang digunakan untuk bepergian, hingga sampah. Timbulan sampah makanan memperparah pemanasan global akibat gas emisi rumah kaca yang dihasilkan. Di Indonesia, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama komunitas mahasiswa pecinta alam pada tahun 2016, ditemukan 453 ton sampah di 8 destinasi wisata Taman Nasional Gunung Indonesia. Sampah tersebut dihasilkan dari aktivitas wisata 150.688 pengunjung. Jika dihitung per pengunjung dapat menghasilkan 3 kg sampah per harinya. Jumlah sampah yang paling banyak ditemukan pada penelitian tersebut adalah sampah plastik yang jumlahnya mencapai 250 juta ton (53%). Selain itu, masih teringat di memori kita beberapa pantai di Bali seperti Pantai Kuta, Legian, Seminyak dan Jimbaran ditemukan sekitar 50 ton sampah pada akhir tahun 2021 lalu.
Perilaku Wisatawan​

Fenomena permasalahan sampah di destinasi wisata ini memunculkan konsep baru pengelolaan pariwisata yaitu pariwisata berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan adalah konsep pariwisata yang mengedepankan dampak baik untuk lingkungan, sosial, budaya, dan perekonomian. Konsep ini telah ditetapkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sejak tahun 2015 lewat Permenpar Nomor 14 Tahun 2016. Salah satu yang menjadi ciri khas dari konsep ini adalah penerapan standar CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment sustainability). CHSE adalah sertifikasi yang diberikan pada industri pariwisata yang telah menerapkan CHSE dalam aktivitas industri pariwisatanya.
Perilaku Pengelola Wisata
Peran pelaku industri pariwisata diwujudkan pada penerapan standar CHSE dalam aktivitas bisnisnya. Di Indonesia, saat ini sudah terdapat 11.986 usaha pariwisata yang sudah tersertifikasi CHSE yang tersebar di 34 provinsi dan 403 kabupaten dan kota. Berbagai usaha pariwisata seperti hotel, wisata selam, golf, arung jeram, restoran, penyelenggara event, daya tarik wisata, dan ekonomi kreatif bisa memperoleh sertifikasi ini. Berbagai persyaratan perlu dipenuhi pelaku industri pariwisata agar usahanya memperoleh sertifikasi CHSE. Khusus untuk aspek kelestarian lingkungan, pelaku industri harus menggunakan perlengkapan yang ramah lingkungan, memanfaatkan air dan sumber energi secara efisien, mengolah sampah dan limbah cair secara tuntas, sehat, dan ramah lingkungan, serta melakukan pemantauan dan evaluasi penerapan CHSE.
Tak hanya memenuhi standar CHSE, pelaku industri juga harus bisa mengedukasi wisatawan untuk berperilaku ramah lingkungan saat melakukan aktivitas wisata secara berkala. Edukasi dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti memperkenalkan panduan wisata ramah lingkungan kepada wisatawan, mengajak wisatawan terlibat pada aktivitas konservasi, serta menetapkan larangan membuang sampah sembarangan secara tegas.
Peran Pemerintah Terapkan Pariwisata Berkelanjutan

(Rendra Rafsanjani / EcoRanger)
Sebagai pemegang kendali penerapan pariwisata berkelanjutan, tanggung jawab dan peran pemerintah sangat besar untuk mengawal wisatawan dan pelaku industri mewujudkan gagasan pariwisata berkelanjutan. Pemerintah memiliki 3 fungsi utama yaitu sebagai mediator, fasilitator, dan legislator.
Sebagai mediator, pemerintah menjadi jembatan untuk menyatukan kolaborasi antara masyarakat, pelaku industri pariwisata, dan komunitas agar bisa bergerak bersama mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Tak hanya menyatukan, pemerintah harus mampu memfasilitasi aksi kolaborasi yang dilakukan seperti menyediakan sarana dan prasarana pariwisata dan pengelolaan sampah yang mumpuni agar penerapan CHSE berjalan maksimal. Satu hal yang tak kalah penting yaitu menciptakan kebijakan yang selaras dengan permasalahan yang ada agar kebijakan tersebut bisa menjadi solusi yang tepat. Tak hanya diciptakan, yang paling krusial adalah penegakan kebijakan itu sendiri yang harus diterapkan pemerintah dengan tegas dan disiplin.
Peran EcoRanger Untuk Pariwisata Indonesia

Foto Andien Ikut Bersihkan Pantai di EcoRanger Cleanup Day (Rendra Rafsanjani / EcoRanger)
Mengamini upaya seluruh pihak untuk menerapkan pariwisata berkelanjutan, EcoRanger hadir dengan solusi pengelolaan sampah berbasis masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan kawasan wisata Indonesia baik Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) maupun yang non-strategis.
Dalam rangka menyambut HPSN 2022, EcoRanger kembali mengajak para nelayan Dusun Pancer Banyuwangi untuk memancing sampah di laut. Aksi bersama nelayan ini dibawah naungan proyek Fishing For Litter kolaborasi Greeneration Foundation dan GIZ Indonesia sebagai bagian dari Rethinking Plastics: Solution to Marine Litter. Tak hanya bergerak bersama nelayan, EcoRanger juga bergerak bersama wisatawan dan komunitas lokal dalam aksi Beach Cleanup yang rutin diadakan tiap bulannya. Pada Beach Cleanup menuju HPSN 2022 yang diadakan tanggal 5 Februari 2022 juga turut dihadiri Andien Aisyah penyanyi terkenal Indonesia. Kolaborasi bersama publik figur ini bermanfaat untuk mendatangkan animo masyarakat dalam aksi selamatkan lingkungan dari sampah. Aksi ini diikuti 20 peserta yang berhasil mengumpulkan 11.5 Kg sampah dan menanam 15 pohon cemara laut.
Tak hanya dalam rangka menyambut HPSN, EcoRanger secara rutin melakukan edukasi pengelolaan sampah di kawasan wisata Pulau Merah agar warga sekitar dapat menerapkan pilah sampah dari rumah. EcoRanger juga mengelola sampah yang dikumpulkan masyarakat di Sentra Kelola Sampah bekerjasama dengan DLH Kabupaten Banyuwangi dan Industri daur ulang. Sejak Juni 2019 hingga saat ini, EcoRanger telah berhasil mengelola lebih dari 611 ton sampah. Aksi-aksi ini telah dilakukan sejak 2018 untuk perlahan mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Banyuwangi.

Tak cukup dengan beraksi di Kabupaten Banyuwangi, saat ini EcoRanger mulai memperluas jangkauan dampak yang diberikan ke KSPN. EcoRanger hadir di Lombok Tengah tepatnya di Desa Wisata Hijau di Bilebante. Untuk memperingati HPSN 2022, pada 21 Februari lalu, EcoRanger dan Yayasan Aksi Indonesia Lestari (Ddorocare) bersama siswa-siswi Madrasah (MI/MTs/MA) Hadil Ishlah Bilebante bersama-sama melakukan cleanup di sekitar kawasan Desa Wisata Hijau dan sekolah mereka. Sekitar 206 siswa yang mengikuti kegiatan ini berhasil mengumpulkan 62,76 kg sampah yang akan dikelola di Bank Sampah Indonesia Lestari (B-SILe). Kegiatan ini mengawali serangkaian aksi EcoRanger Academy yang akan dilakukan untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Desa Bilebante yang didukung oleh New Zealand International Development Cooperation Programme. EcoRanger Academy diresmikan oleh jajaran pemerintah Desa Bilebante dan DLHK Lombok Tengah pada Rabu 23 Februari 2022 di Balai Desa Bilebante dengan menyerahkan surat dukungan kepala desa setempat.
Berbagai solusi terkait pengelolaan sampah di destinasi wisata yang telah dipaparkan sebelumnya tentunya harus berujung pada sebuah gerakan yang bisa kita mulai dari diri kita sendiri. Tak cukup hanya menerapkan 3R, untuk menangani masalah sampah yang terlanjur menjadi polemik, kita harus mulai menerapkan prinsip 9R(Rethink, Refuse, Reduce, Recycle, Reuse, Replace, Replant, Refill, dan Repair). Menerapkan prinsip ini kita dapat lebih menyadari sebab dan akibat dari aktivitas wisata yang tidak ramah lingkungan supaya kita bisa mencegah untuk berperilaku merusak lingkungan saat berwisata.